- ±. 408 SM Hippodamus - Peiraeus, Thurrii, Italia, Rhodes
- 1666 Christopher Wren - London
- 1791 Peter Charles L'Enfant, Benjamin Banneker, Andrew Ellicott - Washington, DC
- 1853 Baron Haussmann - bertanggung jawab atas broad avenues Paris
- 1859 Ildefons Cerdà - perencana Eixample distrikk Barcelona
- 1882 Arturo Soria y Mata - Ciudad Lineal, Madrid
- 1898 Ebenezer Howard - Garden City
- 1901 Charles Follen McKim - Washington, DC rencana perbaikan
- 1909 Daniel Burnham - Chicago, Illinois
- 1912 Walter Burley Griffin - Canberra
- 1924 Andrew R. Cobb dan Thomas Adams - Corner Brook, Newfoundland
- 1924 Clarence Stein - Sunnyside Gardens, New York, Chatham Village, Pittsburgh, Baldwin Hills Village, Los Angeles
- 1925 Ernst May - rencana kota dan unit perumahan di Frankfurt am Main, Jerman, termasuk Römerstadt
- 1927 Bruno Taut - Hufeisensiedlung (Horseshoe Projects), Berlin
- 1928 Henry Wright - Radburn, New Jersey
- c. 1930 Robert Moses, bertanggung jawab untuk pembaharuan kota Kota New York
- 1930 Ernst May - Magnitogorsk dan 20 perencana perkotaan lainnya di Uni Soviet
- 1935 F.L. Wright - Broadacre City (konsep)
- 1950 Le Corbusier - Chandigarh, India
- 1952 Macklin Hancock - Don Mills, Ontario
- 1957 Lucio Costa - Brasília, Brazil
- 1960 William Pereira - Irvine, California
- 1960 Konstantinos Doxiadis - Islamabad, Pakistan
- 1963 Mort Hoppenfeld, James Rouse - Columbia, Maryland
- 1964 Robert E. Simon - Reston, Virginia
- 1970 Paolo Soleri - Arcosanti, Arizona
- 1970 William Pereira, Ian McHarg - The Woodlands, Texas
- 1971 H.K.Mewada, P.M.Apte - Gandhinagar, Gujarat, India
- 1973 Moshe Safdie - Coldspring New Town, Baltimore, Maryland
- 1984 Andres Duany, Elizabeth Plater-Zyberk - Seaside, Florida
- 1990 Peter Calthorpe - Laguna West, California
- 1992 Vladimir Arana - Chorrillos, Lima, Peru
Blog ini Gue buat untuk nge-share tentang topik arsitektural, seni, budaya, dan info lainnya di dunia anak muda.. keep smile.!
Kamis, 03 November 2011
Daftar perencana kota berdasarkan waktu awal perencanaan.
Rabu, 26 Oktober 2011
TEORI LINKAGE
Linkage artinya berupa garis semu yang menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lain, nodes yang satu dengan nodes yang lain, atau distrik yang satu dengan yang lain. Garis ini bisa berbentuk jaringan jalan, jalur pedestrian, ruang terbuka yang berbentuk segaris dan sebagainya. Teori linkage melibatkan pengorganisasian garis penghubung yang menghubungkan bagian-bagian kota dan disain “spatial datum” dari garis bangunan kepada ruang. Spatial datum dapat berupa: site line, arah pergerakan, aksis, maupun tepian bangunan (building edge). Yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem linkage dalam sebuah lingkungan spasial. Sebuah linkage perkotaan dapat diamati dengan cara dan pendekatan yang berbeda, terdapat 3 pendekatan linkage perkotaan:
1. Linkage Visual

Gambar diatas merupakan gambar dari Las Vegas, yang memiliki linkage penghubung yang bersifat kaitan saja (netral). Hal ini banyak kita jumpai di kota-kota Italia, Amsterdam, Washington, Jaipur, Yogyakarta
Gambar diatas merupakan gambar dari Arc De Triumph – Paris, linkage yang bersifat fokus untuk memusatkan suatu kawasan, serta memiliki fungsi dan arti khusus dalam kota karena bersifat dominan dan menonjol daripada lingkungannyaLima elemen linkage visual, merupakan elemen yang memiliki ciri khas dan suasana tertentu yang mampung menghasilkan hubungan secara visual, terdiri dari:

La Rambla – Barcelona, merupakan koridor yang menghubungkan pusat kota dengan laut (patung Columbus). Dibentuk dari deretan bangunan serta deretan pohon sebagai linkagevisual kota.


Market Street – San Francisco adalah merupakan sebuah jalan yang berfungsi sebagai linkage struktural. Dimana jalan ini mampu sebagai penghubung yang memadukan antara dua tipe grid yang berbeda, mampu sebagai stabilisator atau penyeimbangan untuk membentuk sebuah struktur lingkungan.


Gambar diatas adalah gambar super blok karya Le Corbusier, yang merupakan contoh daricompositional form, dimana bangunan yang ada menciptakan linkage sebuah ruang berdasarkan susunan secara 2 dimensi. Hal ini juga banyak ditemukan pada kota Chandigard – India, yang merupakan kawasan yang dirancang oleh Le Corbusier
Gambar diatas merupakan gambar kota New – Brasilia, yang merupakan contoh dari mega form. Menghubungkan struktur-struktur seperti bingkai yang linier atau sebagai grid. Adanya penghubung berupa garis lengkung (warna ungu) yang menghubungkan kota secara makro
Gambar diatas adalah gambar kawasan Bern – Swiss, yang merupakan contoh dari group form pada sepanjang ruang terbuka berupa garden dan sungai. Bern adalah ibu kota dari swiss ini merupakan kota tua dan bersejarah di swiss. Kota historis Bern adalah sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1983
tulisan ini bersumber dari:
book "Finding Lost Space" by: Roger Trancik
buku "Perancangan Kota Terpadu" oleh: Markus Zahnd
- Linkage yang visual,
- Linkage yang struktural,
- Linkage bentuk yang kolektif.
1. Linkage Visual
Dalam linkage yang visual dua atau lebih fragmen kota dihubungkan menjadi satu kesatuan yang secara visual, mampu menyatukan daerah kota dalam berbagai skala. Pada dasarnya ada 2 pokok perbedaan antara linkage visual, yaitu:
- Yang menghubungkan dua daerah secara netral,
- Yang menghubungkan dua daerah, dengan mengutamakan satu daerah

Gambar diatas merupakan gambar dari Las Vegas, yang memiliki linkage penghubung yang bersifat kaitan saja (netral). Hal ini banyak kita jumpai di kota-kota Italia, Amsterdam, Washington, Jaipur, Yogyakarta
Gambar diatas merupakan gambar dari Arc De Triumph – Paris, linkage yang bersifat fokus untuk memusatkan suatu kawasan, serta memiliki fungsi dan arti khusus dalam kota karena bersifat dominan dan menonjol daripada lingkungannyaLima elemen linkage visual, merupakan elemen yang memiliki ciri khas dan suasana tertentu yang mampung menghasilkan hubungan secara visual, terdiri dari:- Garis: menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu deretan massa (bangunan atau pohon).
- Koridor: dibentuk oleh dua deretan massa (bangunan atau pohon) yang membentuk sebuah ruang.
- Sisi: menghubungkan dua kawasan dengan satu massa. Mirip dengan elemen garus namun sisi bersifat tidak langsung.
- Sumbu: mirip dengan elemen koridor , namun dalam menghubungkan dua daerah lebih mengutamakan salah satu daerah saja.
- Irama: menghubungkan dua tempat dengan variasi massa dan ruang


La Rambla – Barcelona, merupakan koridor yang menghubungkan pusat kota dengan laut (patung Columbus). Dibentuk dari deretan bangunan serta deretan pohon sebagai linkagevisual kota.
2. Linkage Struktur
Menggabungkan dua atau lebih bentuk struktur kota menjadi satu kesatuan tatanan.Menyatukan kawasan kawasan kota melalui bentuk jaringan struktural yang lebih dikenal dengan sistem kolase (collage). Tidak setiap kawasan memiliki arti struktural yang sama dalam kota, sehingga cara menghubungkannya secara hierarkis juga dapat berbeda. 
Gambar diatas merupakan gambar dari kota Manhattan – New York, dimana kita dapat melihat sistem grid yang sangat kuat dalam penataannya. Namun secara struktural kawasan ini kurang jelas sehingga menyebabkan orang merasa tersesat tanpa adanya hierarki yang memberikan stabilitas dengan menghubungkan kawasan satu dengan lainnya.
Fungsi linkage struktural di dalam kota adalah sebagai stabilisator dankoordinator di dalam lingkungannya, karena setiap kolase perlu diberikan stabilitas tertentu serta distabilisasikan lingkungannya. Hal ini dapat dilakukan dengan memprioritaskan sebuah daerah yang menjelaskan lingkungannya dengan suatu struktur, bentuk, wujud, atau fungsi yang memberikan susunan tertentu didalam prioritas penataan kawasan.
Ada tiga elemen linkage struktural yang mencapai hubungan secara arsitektural, yaitu:
- Tambahan: melanjutkan pola pembangunan yang sudah ada sebelumnya.
- Sambungan: memperkenalkan pola baru pada lingkungan kawasan.
- Tembusan: terdapat dua atau lebih pola yang sudah ada di sekitarnya dan akan disatukan sebagai pola-pola yang sekaligus menembus didalam suatu kawasan


Market Street – San Francisco adalah merupakan sebuah jalan yang berfungsi sebagai linkage struktural. Dimana jalan ini mampu sebagai penghubung yang memadukan antara dua tipe grid yang berbeda, mampu sebagai stabilisator atau penyeimbangan untuk membentuk sebuah struktur lingkungan.
3. Linkage sebagai Bentuk Kolektif.
Teori linkage memperhatikan susunan dari hubungan bagian-bagian kota satu dengan lainnya. Dalam teori linkage, sirkulasi merupakan penekanan pada hubungan pergerakan yang merupakan kontribusi yang sangat penting. Linkage memperhatikan dan mempertegaskan hubungan-hubungan dan pergerakan-pergerakan (dinamika) sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric)
Menurut Fumuhiko Maki, Linkage adalah semacam perekat kota yang sederhana, suatu bentuk upaya untuk mempersatukan seluruh tingkatan kegiatan yang menghasilkan bentuk fisik suatu kota. Teori ini terbagi menjadi 3 tipe linkage urban space yaitu:
- Compositional form: bentuk ini tercipta dari bangunan yang berdiri sendiri secara 2 dimensi. Dalam tipe ini hubungan ruang jelas walaupun tidak secara langsung
- Mega form: susunan-susunan yang dihubungkan ke sebuah kerangka berbentuk garis lurus dan hirarkis.
- Group form: bentuk ini berupa akumulasi tambahan struktur pada sepanjang ruang terbuka. Kota-kota tua dan bersejarah serta daerah pedesaan menerapkan pola in


Gambar diatas adalah gambar super blok karya Le Corbusier, yang merupakan contoh daricompositional form, dimana bangunan yang ada menciptakan linkage sebuah ruang berdasarkan susunan secara 2 dimensi. Hal ini juga banyak ditemukan pada kota Chandigard – India, yang merupakan kawasan yang dirancang oleh Le Corbusier
Gambar diatas merupakan gambar kota New – Brasilia, yang merupakan contoh dari mega form. Menghubungkan struktur-struktur seperti bingkai yang linier atau sebagai grid. Adanya penghubung berupa garis lengkung (warna ungu) yang menghubungkan kota secara makro
Gambar diatas adalah gambar kawasan Bern – Swiss, yang merupakan contoh dari group form pada sepanjang ruang terbuka berupa garden dan sungai. Bern adalah ibu kota dari swiss ini merupakan kota tua dan bersejarah di swiss. Kota historis Bern adalah sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1983tulisan ini bersumber dari:
book "Finding Lost Space" by: Roger Trancik
buku "Perancangan Kota Terpadu" oleh: Markus Zahnd
PERKEMBANGAN TEORI PERENCANAAN KOTA SAMPAI DENGAN MASA POSTMODERN
Teori perencanaan kota mulai dikenal sejak tahun 1945, yaitu sejak Perang Dunia Pertama, dan mengalami perubahan yang signifikan sejak jaman Postmodern, yaitu sekarang ini. Menurut Nigel Taylor (1998), perubahan yang mendasar adalah pada paradigma perencanaan kota itu sendiri. Pada awal lahirnya teori perencanaan kota, perencanaan kota dipakai sebagai alat untuk menggambarkan ide-ide sosial dari penguasa saat itu. Pada awal abad 21, perubahan banyak terjadi pada kultur dan nilai-nilai yang mempengaruhi paradigma perencanaan kota.
Ada tiga konsep pemikiran yang mendasar pada teori perencanaan kota tahun 1945, khususnya di Eropa, yaitu:
1. perencanaan kota sebagai perencanaan fisik kota
2. perancangan kota sebagai esensi dari perencanaan kota
3. ketepatan spasial dalam bentuk ‘gambar’ ataupun ‘blue print’ sebagai produk akhir dari suatu perencanaan kota sangat dituntut (Taylor, 1998,p.5).
Ketiga konsep perencanaan kota diatas bertahan sampai Perang Dunia Kedua, dimana perencanaan kota lebih dianggap sebagai bagian dari arsitektur atau seni, ruang kota seperti layaknya kanvas yang luas. Meskipun konsep tentang perencanaan kota sebagai produk fisik masih tetap diakui sampai sekarang ini. Perubahan ini dapat dikatakan sebagai perubahan yang bersifat internasional: perencanaan kota adalah arsitektur dalam skala yang lebih luas. Sehingga konsekuensinya, profesi perencana kota sebagian besar adalah juga arsitek.
Sejak 1960-an, perencanaan kota lebih dilihat sebagai suatu sistem dari pada produk fisik. Yaitu merencanakan sistem suatu kota yang pada dasarnya merupakan akumulasi dari sistem-sistem yang lebih kecil di dalam kota yang saling berhubungan, seperti jaringan jalan kota, dan sistem jaringan air kota. Konsep ini lebih didasari pada nilai sosial dan kegiatan ekonomi dari kota, yang pada akhirnya
melibatkan banyak keilmuan dalam merencanakan suatu kota.
Hingga akhir 1960, yang dianggap sebagai awal dari jaman Postmodern, perencanaan kota lebih cenderung pada perencanaan yang komprehensif, yang mempertahankan keragaman dan pluralisme. Masyarakat dengan bebas menentukan nilai-nilai unik yang mereka miliki, dan menjadi pertimbangan yang signifikan pada perencanaan kota. Bisa diambil contoh yaitu proses pengambilan keputusan terhadap perencanaan suatu kawasan di banyak negara maju yang saat ini lebih bersifat bottom-up.
Perkembangan teori perencanaan kota sangat tergantung pada perkembangan kota itu sendiri (urban development). Paul Balchin, David Isaac, dan Jean Chen (2000), menggambarkan siklus perkembangan kota sebagai kurva yang meningkat sejak abad 18 sampai pertengahan abad 19. Kurva ini bisa dijelaskan sebagai berikut:
1. Proses urbanisasi.
Yaitu proses tumbuhnya kota karena perpindahan penduduk dari rural ke urban yang diawali dengan adanya Revolusi Industri pada abad 18.
2. Proses urbanisasi atau sub-urbanisasi.
Proses urbanisasi menimbulkan berkembangnya sektor jasa yang cukup pesat dan kegiatan manufaktur yang cenderung memilih lokasi pinggiran/ luar pusat kota, sehingga pada tahap ini menyebabkan tumbuhnya suburbansuburban.
3. Proses sub-urbanisasi.
Proses sub-urbanisasi yang diikuti dengan menurunnya populasi di pusat kota.
4. Proses re-urbanisasi atau de-urbanisasi.
Yaitu proses yang disebabkan oleh berkembangnya suburban menjadi urban.
Ada tiga konsep pemikiran yang mendasar pada teori perencanaan kota tahun 1945, khususnya di Eropa, yaitu:
1. perencanaan kota sebagai perencanaan fisik kota
2. perancangan kota sebagai esensi dari perencanaan kota
3. ketepatan spasial dalam bentuk ‘gambar’ ataupun ‘blue print’ sebagai produk akhir dari suatu perencanaan kota sangat dituntut (Taylor, 1998,p.5).
Ketiga konsep perencanaan kota diatas bertahan sampai Perang Dunia Kedua, dimana perencanaan kota lebih dianggap sebagai bagian dari arsitektur atau seni, ruang kota seperti layaknya kanvas yang luas. Meskipun konsep tentang perencanaan kota sebagai produk fisik masih tetap diakui sampai sekarang ini. Perubahan ini dapat dikatakan sebagai perubahan yang bersifat internasional: perencanaan kota adalah arsitektur dalam skala yang lebih luas. Sehingga konsekuensinya, profesi perencana kota sebagian besar adalah juga arsitek.
Sejak 1960-an, perencanaan kota lebih dilihat sebagai suatu sistem dari pada produk fisik. Yaitu merencanakan sistem suatu kota yang pada dasarnya merupakan akumulasi dari sistem-sistem yang lebih kecil di dalam kota yang saling berhubungan, seperti jaringan jalan kota, dan sistem jaringan air kota. Konsep ini lebih didasari pada nilai sosial dan kegiatan ekonomi dari kota, yang pada akhirnya
melibatkan banyak keilmuan dalam merencanakan suatu kota.
Hingga akhir 1960, yang dianggap sebagai awal dari jaman Postmodern, perencanaan kota lebih cenderung pada perencanaan yang komprehensif, yang mempertahankan keragaman dan pluralisme. Masyarakat dengan bebas menentukan nilai-nilai unik yang mereka miliki, dan menjadi pertimbangan yang signifikan pada perencanaan kota. Bisa diambil contoh yaitu proses pengambilan keputusan terhadap perencanaan suatu kawasan di banyak negara maju yang saat ini lebih bersifat bottom-up.
Perkembangan teori perencanaan kota sangat tergantung pada perkembangan kota itu sendiri (urban development). Paul Balchin, David Isaac, dan Jean Chen (2000), menggambarkan siklus perkembangan kota sebagai kurva yang meningkat sejak abad 18 sampai pertengahan abad 19. Kurva ini bisa dijelaskan sebagai berikut:
1. Proses urbanisasi.
Yaitu proses tumbuhnya kota karena perpindahan penduduk dari rural ke urban yang diawali dengan adanya Revolusi Industri pada abad 18.
2. Proses urbanisasi atau sub-urbanisasi.
Proses urbanisasi menimbulkan berkembangnya sektor jasa yang cukup pesat dan kegiatan manufaktur yang cenderung memilih lokasi pinggiran/ luar pusat kota, sehingga pada tahap ini menyebabkan tumbuhnya suburbansuburban.
3. Proses sub-urbanisasi.
Proses sub-urbanisasi yang diikuti dengan menurunnya populasi di pusat kota.
4. Proses re-urbanisasi atau de-urbanisasi.
Yaitu proses yang disebabkan oleh berkembangnya suburban menjadi urban.
Dilihat dari sekuen waktu teori perkembangan kota diatas, teori perencanaan kota mulai berkembang pada tahap urbanisasi dan suburbanisasi, dimana sudah dikenal adanya pertumbuhan daerah pinggiran kota. Pusat kota tumbuh pesat akibat Revolusi Industri (urbanisasi) dan dipicu dengan rusaknya kota karena Perang Dunia Pertama, penguasa kota baru menyadari pentingnya merencanakan suatu kota, dengan menganggap perencanaan kota sebagai bagian dari arsitektur yang lebih makro. Proses sub-urbanisasi mengikuti proses urbanisasi, selama Perang Dunia Kedua, memandang kota lebih kepada integrasi dari banyak system didalam kota, termasuk sistem yang menyatukan pusat kota dan daerah pinggiran yang mulai tumbuh. Pada proses re-urbanisasi atau deurbanisasi, yaitu sejak abad 21, lebih banyak dipengaruhi oleh issue globalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Balchin, P., N., Isaac, D. and Chen, J., Urban economics; a global perspective, Palgrave, Hampshire, 2000.
Taylor, N., Urban planning since 1945, SAGE Publications, New Delhi, 1998.
Damayanti, Rully. Pengaruh globalisasi terhadap perencanaan kota (studi kasus kota New York, London dan Tokyo (Global Cities)). Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 31, No. 1, Juli 2003: 38-42
Balchin, P., N., Isaac, D. and Chen, J., Urban economics; a global perspective, Palgrave, Hampshire, 2000.
Taylor, N., Urban planning since 1945, SAGE Publications, New Delhi, 1998.
Damayanti, Rully. Pengaruh globalisasi terhadap perencanaan kota (studi kasus kota New York, London dan Tokyo (Global Cities)). Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 31, No. 1, Juli 2003: 38-42
Langganan:
Postingan (Atom)